Aku masih
berdiri di halte bus , menunggu sms balasan
dari kakak ipar yang berjanji akan menjemputku di kantor. Namun karena malam
itu hujan turun begitu deras , kakak ipar sedikit terlambat menjemput karena
Dia sedang berada di luar kota.
Aku sedikit cemas , hujan tak kunjung berhenti dan jalanan
Nampak sepi. Sesekali ku melihat sekeliling akankah ada seseorang yang bersedia
untuk mengajakku pulang bersama dan pastinya yang searah dengan jalan kerumahku.
Jam di tangan menunjukkan pukul 19.30 aku masih tak berani untuk pulang jalan
kaki dengan hujan deras , suasana sepi dan gelap. Mengingat beberapa minggu
yang lalu ada satu peristiwa mengerikan terjadi di desaku. Sosok tanpa
identitas meninggal tertabrak kereta ketika sedang melakukan upayah bunuh diri.
Dan keesokan harinya banyak sekali terror yang berdatangan. Dan saat itu pula
sepanjang jalanan rumahku menjadi sepi.
“baiklah aku akan pulang sekarang!” gumamku . Namun seperti
ada tarikan yang membuatku engan beranjak dari halte bus , aku memurungkan niat
dengan dalih nunggu 10 menit lagi untuk beranjak pulang. “ccciiiitttt” suara
rem bus berhenti , menurunkan beberapa penumpang di halte. Aku memperhatikan
sebentar dan kembali melihat sekeliling mencari tumpangan atau tukang becak
yang melintas.
“fitri” panggil seseorang. Sepertinya dia salah satu
penumpang yang baru saja turun dari bus. Aku memperhatikan dengan seksama
siapakah yang memanggilku dan ternyata dia…
“Fery!” aku terkejut. Fery yang merupakan tetangga dan mantan pacarku. Aku ta menyangka bisa
bertemu dengan dia setelah sekian lama tak bertemu. Semenjak dia dikabarkan
tengah menjalani pendidikan keperawatan di Luar kota , kita jarang berjumpa
meski jarak rumah kita tidk terlalu jauh. Dan mungkn karena kesibukan
masing-masing sehingga kita tak bisa dipertemukan. Dan malam itu sungguh
berbeda , aku bisa bertemu lagi dengannya di antara derasnya hujan yang
menguyur dan aku yang sedang merasa sendirian.
“kamu apa kabar fit?” fery menjabat tanganku , aku pun
membalas jabat tangannya.
“baik fer , kamu sendiri gimana? Lama gak ketemu” tanyaku
yang kemudian dibalas dengan senyumnya yang khas. Senyuman yang selalu membuat
hatiku dag dig dug. Dan aku sangat bahagia sempat memilikinya.
“hehe iya , aku jarang pulang banyak banget tugas belom lagi praktek
di rumah sakit” pungkasnya. Sesekali dia membenarkan kacamata yang sedikit
kedodoran.
Hening hanya terdengar suara rintik hujan.
“embbb ini kamu mau berangkat apa mau pulang?” Tanya fery
yang melihat seragam kantor yang masih ku kenakan.
“ini mau pulang , kakak iparku gak bisa jemput aku juga gak
berani jalan kaki soalnya takut” aku pun menceritakan kejadian di desa beberapa
minggu yang lalu kepada fery.
“terus harus sampai kapan kita berdiri disini , pulang bareng
yuk” ajak fery yang ku balas dengan anggukan. Sepanjang perjalanan kita
mengobrol kesibukan masing-masing. Dengan sedikit basah kuyup kita membiarkan
air hujan membasahi baju kita.
“aku laper nich , beli mie ayam dulu yuk” ajaknya lagi. Kita
pun berhenti di warung mie ayam yang tak jauh dari halte bus. Dia memesan 2
mangkok mie ayam dan 2 gelas Teh hangat , setidaknya bikin badan kita menjadi
sedikit lebih hangat. Kami pun bertukar nomer hp dan kembali melanjutkan obrolan.
“kamu sudh punya pacar belom” aku yang tengah meneguk the
sedikit tersendak.
“uuhhuukk , pacar? Aku sedikit salah tingkah. Fery
mengernyitkan dahi.
“salah ya pertanyaanku?” fery melemparkan senyum ke arahku.
“hhhaaaa pacar ya? Gak punya fer” jawabku sedikit dengan nada
becanda. Tak ada ekspresi yang berarti dari muka fery. Dia kemudian membuka sms nya,
Aku meneguk kembali Teh yang sudah mau habis.
“pulang yuuk udah malem nic , kita naek becak aja ya biar
kamu gak tambah kedinginan”. Fery nampaknya memperhatikanku benar , seragam
kantorku hampir setengah basah karna
Tidak ada komentar:
Posting Komentar