Rabu, 18 Maret 2015

Hujan Kemarin



Aku masih berdiri di halte bus , menunggu sms balasan dari kakak ipar yang berjanji akan menjemputku di kantor. Namun karena malam itu hujan turun begitu deras , kakak ipar sedikit terlambat menjemput karena Dia sedang berada di luar kota.
Aku sedikit cemas , hujan tak kunjung berhenti dan jalanan Nampak sepi. Sesekali ku melihat sekeliling akankah ada seseorang yang bersedia untuk mengajakku pulang bersama dan pastinya yang searah dengan jalan kerumahku. Jam di tangan menunjukkan pukul 19.30 aku masih tak berani untuk pulang jalan kaki dengan hujan deras , suasana sepi dan gelap. Mengingat beberapa minggu yang lalu ada satu peristiwa mengerikan terjadi di desaku. Sosok tanpa identitas meninggal tertabrak kereta ketika sedang melakukan upayah bunuh diri. Dan keesokan harinya banyak sekali terror yang berdatangan. Dan saat itu pula sepanjang jalanan rumahku menjadi sepi.
“baiklah aku akan pulang sekarang!” gumamku . Namun seperti ada tarikan yang membuatku engan beranjak dari halte bus , aku memurungkan niat dengan dalih nunggu 10 menit lagi untuk beranjak pulang. “ccciiiitttt” suara rem bus berhenti , menurunkan beberapa penumpang di halte. Aku memperhatikan sebentar dan kembali melihat sekeliling mencari tumpangan atau tukang becak yang melintas.
“fitri” panggil seseorang. Sepertinya dia salah satu penumpang yang baru saja turun dari bus. Aku memperhatikan dengan seksama siapakah yang memanggilku dan ternyata dia…
“Fery!” aku terkejut. Fery yang merupakan tetangga dan mantan pacarku. Aku ta menyangka bisa bertemu dengan dia setelah sekian lama tak bertemu. Semenjak dia dikabarkan tengah menjalani pendidikan keperawatan di Luar kota , kita jarang berjumpa meski jarak rumah kita tidk terlalu jauh. Dan mungkn karena kesibukan masing-masing sehingga kita tak bisa dipertemukan. Dan malam itu sungguh berbeda , aku bisa bertemu lagi dengannya di antara derasnya hujan yang menguyur dan aku yang sedang merasa sendirian.
“kamu apa kabar fit?” fery menjabat tanganku , aku pun membalas jabat tangannya.
“baik fer , kamu sendiri gimana? Lama gak ketemu” tanyaku yang kemudian dibalas dengan senyumnya yang khas. Senyuman yang selalu membuat hatiku dag dig dug. Dan aku sangat bahagia sempat memilikinya.
“hehe iya , aku jarang pulang banyak banget tugas belom lagi praktek di rumah sakit” pungkasnya. Sesekali dia membenarkan kacamata yang sedikit kedodoran.
Hening hanya terdengar suara rintik hujan.
“embbb ini kamu mau berangkat apa mau pulang?” Tanya fery yang melihat seragam kantor yang masih ku kenakan.
“ini mau pulang , kakak iparku gak bisa jemput aku juga gak berani jalan kaki soalnya takut” aku pun menceritakan kejadian di desa beberapa minggu yang lalu kepada fery.
“terus harus sampai kapan kita berdiri disini , pulang bareng yuk” ajak fery yang ku balas dengan anggukan. Sepanjang perjalanan kita mengobrol kesibukan masing-masing. Dengan sedikit basah kuyup kita membiarkan air hujan membasahi baju kita.
“aku laper nich , beli mie ayam dulu yuk” ajaknya lagi. Kita pun berhenti di warung mie ayam yang tak jauh dari halte bus. Dia memesan 2 mangkok mie ayam dan 2 gelas Teh hangat , setidaknya bikin badan kita menjadi sedikit lebih hangat. Kami pun bertukar nomer hp dan kembali melanjutkan obrolan.
“kamu sudh punya pacar belom” aku yang tengah meneguk the sedikit tersendak.
“uuhhuukk , pacar? Aku sedikit salah tingkah. Fery mengernyitkan dahi.
“salah ya pertanyaanku?” fery melemparkan senyum ke arahku.
“hhhaaaa pacar ya? Gak punya fer” jawabku sedikit dengan nada becanda. Tak ada ekspresi yang berarti dari muka fery. Dia kemudian membuka  sms nya, Aku meneguk kembali Teh yang sudah mau habis.
“pulang yuuk udah malem nic , kita naek becak aja ya biar kamu gak tambah kedinginan”. Fery nampaknya memperhatikanku benar , seragam kantorku hampir setengah basah karna



Tidak ada komentar:

Posting Komentar