Mengingat kembali masa
kecil sangatlah menyenangkan. Banyak sekali kejadian lucu , konyol dan aneh
layaknya anak kecil pada umumnya. Dan mainan favoritku keika aku bermain dengan
teman sebayaku waktu kecil adalah main masak – masakan. Bermodalkan tutup biskuit KONG
GUAN , lilin (dilelehkan untuk pengganti minyak) batu bata (menghalangi
angin yang berhembus agar api tidak padam) sampah (daun kering , maupun plastik
sebagai sumber api).
Dan ceritanya dimulai
dari Reni (tetanggaku ) mengajakku main masak – masakan. Waktu itu siang dan
hari jum’at dimana banyak orang –orang (laki2 khususnya).
“mbak fitri , main yuk
“ teriaknya
“tunggu bentar ya aku
naruh piring dulu “ aku bergegas masuk untuk meletakkan piring sehabis makan.
Hari itu hanya kami
berdua yang main. Teman – teman yang lain sedang asik bobok siang dirumah
masing – masing.
“nic aku sudah bawa
penggorengan , sama lilin jadi kita langsung main aja” ajak reni yang sering
banget modal barang – barang yang akan digunakan.
“ tapi dimana ? ,
sebentar lagi orang – orang pada lewat sini” pungkasku sembari mencari tempat
yang aman buat kita main masak – masakan tanpa di ganggu tetangga yang
halamannya kita pakai untuk masak – masakan yang kerap kali sangat mengotori
sekali.
“kita main di pekarangan
sana yuk “ tunjuk rena yang ia rasa tempat nya sangat aman dan nyaman (hunian
kaliii)
Pekarangan itu tak jah
dari rumahku selain rindang dan sedikit agak serem (banyak tumbuh ilalang
maupun tanaman merambat yang menggaggu lainnya) sekaligus dekat dengan sungai.
“baiklah” aku
mengiyakan
Kami asik bermain
seolah – olah kita ini koki yang lagi mendemokan masakan kepada penonton
layaknya FOODY WITH RUDY”. Setelah banyak masakan aneh yang kita ciptakan ,
akhirnya ide dan bahan – bahan yang digunakan habis.
“ terus kita buat
apalagi ini? “tanyaku sembari asik mengaduk masakan ongseng – oseng
sayur.(dengan minyak lilin J)
“ wah lilinnya mau
habis juga , habis ini aku pulang dulu ngambil lilin terus kita masak lagi “
papar reni yang asik mencari bahan untuk kita goreng.
:mbak fit tolong siapin
minyak (lilin) kita mau goring ini “ sembari berlari. Nampak ditangan reni
membawa sebatang lidi yang menusuk hewan berwarna merah dan berkaki seribu , ya
itu kaki seribu.
“ih kog goreng itu sich
, kan kasihan “ aku sedikit geli dan merasa iba
“udah , daripada gak
ada lagi yang kita goreng” reni cengengesan
“ tapi kan kasihan ,
tuch liat sampek ngeliat- ngeliat gitu” ya benar seperti cacing kepanasan , si
kaki seribu itu terus berontak.
“aku pulang dulu
ngambil lilin mbak. Kalau kaki seribu nya udah kecoklatan , angkat lalu
tiriskan” teriak reni sembari meninggalkanku.
Dalam benakku , “emang
ini acara masak ditelevisi “ gumamku. Aku merasa takut , di pekarangan yang
rimbun gak ada teman, hari jum’at pula. Konon katanya kalau siang – siang main
di pekarangan apalagi pake acara mengganggu bubuk siang nya hantu , hantunya bakal marah. dan jelas bukan hantu ang marah melainnkan kawanan kaki seribu yang mencoba mengejarku.
setelah kaki seribu nampak diam dengan tubuh yang berubah kecoklatan aku mengangkatnya dari penggorengan. tanpa ku sadari aku berada di kawasan rumah si kaki seribu hidup. melihat kawannya tewas dengan tidak wajar mereka tiba- tiba muncul dari semak - semak dengan muka memerah (emang badannya merah kaliii). banyak banget hampir setiap penjuru ada makhluk menjijikkan itu (buat aku)
"aaaaaahhhhhhhhhhhhh" teriakku
renei yang mendengar teriakanku mencoba menghampiriku
"ada apa mbak?" panik
"tuch liat gara-gara kamu banyak kai seribu disini" aku ketautan
"masakk sich "
"mereka iba liat temennya mati mengenaskan , mungkin mereka balas dendam.. ayoook pulangg,,,," sembari lari menyeret tangan reni
dan sejak saat itu aku takut sekali sama hewan kaki seribu itu. memang rumahku deket pekarangan dan kaki seribu banyak tinggal disana. makanya tiap kali aku melihat doi dari kejauhan rumahku , aku pasti minta ibu mengusir dia tanpa alasan apapun. karena aku takut mereka bakal balas dendam karena dendammereka belum terbalaskan..hhhaaaaa LOL :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar